Kesehatan Mental

kesehatan mental

Berbicara tentang kesehatan mental biasanya orang-orang awam akan mengaitkannya dengan perilaku abnormal dari seseorang. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Kesalahpahaman seringkali terjadi karena ketidaktahuan kita akan konsep abnormalitas dan kesehatan mental. Oleh karenanya, saya menulis artikel ini, selain agar anda mengetahui dan bisa lebih memahami dua konsep tersebut, juga agar anda bisa lebih bijak dalam menilai orang lain.

Memahami Kesehatan Mental dari Perilaku Abnormal

Dalam buku Psikologi Abnormal yang disusun oleh Paul Bennet (2006), kriteria abnormalitas dapat diketahui melalui 3 cara/pendekatan.

  1. Melalui hasil statistik. Dalam statistik dikenal istilah kurva normal, merupakan hasil dari sebaran data rata-rata yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebuah data dikatakan abnormal jika sebarannya menjauhi kurva tersebut, bisa menjauh ke sisi yang negatif maupun positif. Pada contoh hasil tes kecerdasan, kebanyakan orang memiliki skor IQ rata-rata (normal), sedangkan sebagian kecil memiliki skor IQ di bawah rata-rata (abnormal negatif, misalnya orang-orang dengan retardasi mental), dan juga di atas rata-rata (abnormal positif, misalnya orang-orang yang jenius/gifted).
  2. Melalui model utopis. Model ini menganut keyakinan bahwa seseorang dikatakan normal jika dirinya telah memenuhi standar ideal dalam proses aktualisasi diri. Misalnya, anak usia 7 sampai 16 tahun idealnya sedang menempuh pendidikan (normal), jika ada anak dalam rentang usia tersebut yang tidak menempuh pendidikan dan malah sedang bekerja, itu dikatakan abnormal. Kelemahan model ini terletak pada idealisme-nya yang seringkali tidak bisa dipenuhi oleh setiap orang–oleh karenanya dinamakan model utopis, dari kata utopia (artinya sebuah tempat imajiner dengan situasi dan kondisi yang serba sempurna).
  3. Melalui identifikasi perilaku menyimpang. Dalam pendekatan ini, seseorang dikatakan normal jika dirinya menunjukkan perilaku-perilaku yang sesuai dengan kebiasaan/adat istiadat/budaya/nilai/norma masyarakat setempat. Misalnya, Masyarakat Jawa (Indonesia), pada umumnya menganut budaya kolektif dengan nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, tenggang rasa, dan sebagainya; jika ada orang di tanah Jawa (Indonesia) yang secara ekstrim cenderung individualis, hanya mengutamakan kepentingan pribadi dengan egoisnya, dan sebagainya, dirinya dapat dikatakan abnormal.

Pendekatan Abnormalitas dan Konteks Lingkungan Sosial

Dari ketiga pendekatan tersebut, yang kita gunakan untuk menilai abnormalitas seseorangtidak bisa lepas dari konteks di mana dirinya berada/berdomisili. Pada setiap lingkungan sosial terdapat situasi dan kondisi yang unik-spesifik, yang tidak bisa dipadu-padankan dengan lingkungan sosial lainnya (dengan kata lain, tidak bebas nilai). Misalnya, situasi dan kondisi masyarakat di negara-negara Asia Tenggara memiliki keunikan-spesifik yang berbeda dengan masyarakat di negara-negara Eropa.

Kriteria Kesehatan Mental dan Abnormalitas berdasarkan Diagnosa Multiaksial

Meskipun 3 cara di atas bisa digunakan sebagai acuan dalam menentukan abnormalitas seseorang, tetapi itu tidak cukup jika digunakan untuk menyatakan bahwa seseorang memiliki gangguan mental. Ada 5 kriteria yang ditetapkan oleh sebuah asosiasi psikologi tingkat internasional yang bernaung di Amerika Serikat (American Psychologist Association–disingkat APA) dalam menilai kesehatan mental seseorang–disebut Diagnosa Multiaksial.

  1. Gangguan Klinis (Aksis I), merupakan gangguan psikis yang saat ini sedang dialami oleh seseorang (jangka pendek), misalnya: depresi.
  2. Gangguan Psikologis (Aksis II), merupakan gangguan psikis yang relatif menetap dan lama dimiliki oleh seseorang (jangka panjang), misalnya: gangguan bipolar.
  3. Gangguan Medis (Aksis III), merupakan gangguan kesehatan yang pernah/sedang dialami seseorang, misalnya: sakit kepala berkepanjangan.
  4. Gangguan Psikososial (Aksis IV), merupakan gangguan dalam interaksi sosial (membangun/mempertahankan relasi dengan orang lain), misalnya: suka melakukan kekerasan pada orang yang dikenal.
  5. Gangguan Fungsi, merupakan gangguan dalam menjalankan aktivitas-aktivitas keseharian, misalnya: tidak mandi selama berhari-hari.

Dari kelima kriteria (aksis) tersebut, penegakan diagnosanya harus dilakukan oleh para tenaga ahli (seperti: psikolog, psikiater, dokter, atau terapis yang tersertifikasi). Jika¬†pendekatan dalam menilai abnormalitas “tidak bebas nilai”, maka Diagnosa Multiaksial memiliki kelebihan pada kemampuannya untuk menilai secara bebas nilai. Hal ini dikarenakan adanya indikator-indikator yang objektif dan berlaku umum, yang disepakati bersama oleh para tenaga ahli. Indikator-indikator tersebut dicatat dalam lnternational Classification of Disease–disingkat ICD (yang dikeluarkan oleh WHO) dan Diagnostic & Statistical Manual–disingkat DSM (yang dikeluarkan oleh APA).

Semoga para pembaca memahami isi dari artikel yang sederhana ini. Akhir kata, terima kasih atas kesediaan anda meluangkan waktu untuk membaca artikel ini. Sampai jumpa pada artikel-artikel lainnya. (AA)

One thought on “Kesehatan Mental”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *