Yuk Belajar Mengenal Anak Usia Dini (Early Childhood)

Dunia anak usia dini memang penuh dengan misteri. Betapa tidak, kita seringkali terperanga—dibuat takjub oleh segala tingkah polahnya yang ajaib. Artikel ini disajikan buat anda yang tertarik untuk lebih memahami dunia anak usia dini.

Pemahaman Dasar tentang Anak Usia Dini

Menurut The National Association for the Education of Young Children (NAEYC), fase early childhood berlangsung pada rentang usia 0-8 tahun. Sedangkan, menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, anak-anak yang berusia 0-6 tahun disebut sebagai anak usia dini. Terlepas dari adanya perbedaan batas maksimal anak usia dini (early childhood), pada prinsipnya, itu dimulai sejak anak lahir hingga sebelum anak menempuh pendidikan dasar.

Menurut para ahli, pada rentang usia tersebut anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat—the golden age. Agar anak bisa melewatinya secara optimal, itu perlu ditunjang dengan proses pengasuhan (nurturing) yang sesuai. Untuk itu, sebagai orangtua/keluarga/pengasuh alternatif, anda perlu mengetahui seluk beluk perkembangan anak usia dini.

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini

  • Kemampuan kognitif yang berkembang pesat

Pada masa golden age, proses pembentukan dan perbaikan berbagai sel dan jaringan otak (brain plasticity) terjadi dengan sangat cepat. Ini menjadi masa yang sangat krusial bagi si anak; maka, orangtua/keluarga/pengasuh alternatif wajib memperhatikan kebutuhan nutrisi dan memberikan stimulasi untuk perkembangan otak dan kognitif si anak.

  • Tabula rasa

Istilah yang dicetuskan oleh John Locke untuk menggambarkan ciri kedua pada anak usia dini: kondisi mentalnya ibarat kertas putih yang kosong. Inilah yang membuat anak usia dini nampak begitu polosnya (innocence). Efeknya, anak jadi mudah sekali merekam segala hal dalam memori pikirannya; juga, cepat sekali dalam mempelajari hal-hal tertentu.

Oleh sebab itu, saat anda sedang mengasuh anak, bijaklah dalam berperilaku di depan mereka. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, (1) anak merekam perilaku anda kemudian menirukannya, dan (2) anak akan mengingatnya sampai ajal. Bayangkan jika perilaku negatif yang ter-input oleh si anak… amit–amit jabang bebi (sambil ketok-ketok meja).

  • Suka eksplorasi: tiada hari tanpa belajar

    Ciri ketiga ini terjadi beriringan dengan dua ciri sebelumnya. Pada anak usia dini, brain plasticity terjadi saat ada input-input pengalaman sensoris; kemudian… voila! si anak mendadak bisa ini-dan-itu (meski belum lancar), padahal sebelumnya tidak. Pengalaman sensoris tersebut diperoleh lewat kegemaran anak dalam mengeksplorasi segala sesuatu di sekitarnya.

    Pengalaman dengan anak saya (usia 2 tahun), hampir setiap hari dia melakukan hal-hal baru; yang membuat saya (beserta istri dan keluarga) geleng-geleng, elus-elus dada, maupun berdecak—ckckck… Bagaimana dengan pengalaman anda? Apakah anda pernah merasa kagum (sekaligus ingin komentar “kok kesel ya”) dengan tingkah polah anak yang tiada habisnya?

Teori Psikologi Perkembangan Anak

  • Menurut Jean Piaget

Dari 4 tahap perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh tokoh Psikologi ini, anda perlu memperhatikan 2 tahapan awal yang terjadi pada anak usia dini, yaitu:

  1. Sensorimotor (anak usia 0-2 tahun). Perkembangan otak anak berjalan seiring dengan perkembangan sensitivitas panca indera, dan perkembangan fisik (motorik kasar dan halus). Oleh sebab itu, menjadi penting bagi anak untuk mendapatkan rangsangan sensoris terhadap kemampuan penginderaannya. Serta, rangsangan terhadap respon gerak (motorik kasar) dan dilatih koordinasi geraknya (motorik halus). Selain itu, sangatlah penting untuk melakukan pengawasan terhadap anak (bukan pembatasan); karena, anak belum memiliki penalaran (logika berpikir) dan sedang aktif dalam mengeksplorasi dunia di sekitarnya—bisa melakukan hal berbahaya.
  2. Pre-operational (anak usia 2-7 tahun). Kemampuan penalaran anak mulai berkembang; ditandai adanya pengetahuan dasar tentang sebab-akibat/aksi-reaksi (kemampuan asosiasi) atas hal-hal yang sering dialami dan diamatinya; serta kemampuan bicara. Dalam tahap ini, pengawasan terhadap anak tidaklah cukup; juga diperlukan pemberian edukasi. Bentuknya bukan hanya mengenalkan anak dengan huruf, angka, dan bahasa (verbal maupun non-verbal); melainkan juga menanamkan nilai-nilai etika (misalnya sopan santun), estetika (misalnya kebersihan), moral (misalnya toleransi), dan spiritual (misalnya kesabaran).
  • Menurut Lev Vygotsky

Perkembangan belajar seseorang ditentukan oleh optimal/tidaknya proses belajar yang dia lakukan. Pada anak usia dini, itu ditentukan oleh ada/tidaknya bimbingan dari orang-orang yang lebih memahami/menguasai ranah pembelajaran si anak—more knowledgeable other (MKO). Alasannya, karena tidak semua ranah pembelajaran bisa dilakukan secara mandiri (otodidak); ranah-ranah pembelajaran yang memerlukan bimbingan inilah yang disebut oleh Vygotsky sebagai zone of proximal development (ZPD).

Ketika anak berhasil memperoleh lesson-learned dari ranah pembelajaran dalam ZPD, itu bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar di tingkah lanjut.

Selain MKO dan ZPD, Vygotsky juga menekannya pentingnya pendekatan sosiokultural dalam proses dan perkembangan belajar seseorang. Ada tiga hal yang menjadi penekanan, yaitu:

  1. Optimalisasi perkembangan belajar seseorang memerlukan ketersediaan dan keberfungsian social capital yang mendukung proses belajarnya. Bentuk-bentuk social capital bisa berupa lingkungan sosial, pranata sosial, interaksi sosial, hingga pemberdayaan sosial. Bayangkan jika anak usia dini tidak pernah/jarang sekali bersentuhan dengan hal-hal tersebut; apa yang akan terjadi dengan perkembangan belajarnya?
  2. Segala bentuk social capital pasti melekat pada aspek-aspek budaya tertentu—misalnya terkait etnisitas atau agama. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa lepas dari simbol-simbol budaya yang dia pelajari—misalnya tentang bahasa dalam komunikasi-antarmanusia. Maka, proses pemaknaan simbol-simbol budaya tersebut menjadi sangat penting; karena itu memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan belajar seseorang—terutama pada anak usia dini. Bayangkan jika, sederhananya, anak tidak memahami arti dari perkataan-perkataan yang kita ucapkan; apa yang akan terjadi dengan perkembangan belajarnya?
  3. Aspek sosial dan budaya di atas sifatnya konteksual—beragam dan dinamis. Hal ini penting untuk dipahami karena dalam proses belajar seseorang mungkin saja berhadapan dengan perubahan-perubahan. Bentuknya bisa berupa perubahan kebutuhan dan tujuan belajar, lingkungan dan situasi belajar, hingga pengalaman hidup—hal-hal yang terjadi sepanjang waktu. Apabila perubahan tersebut gagal direspon secara adaptif, maka itu bisa menghambat proses dan perkembangan belajar seseorang. Bayangkan jika anak usia dini yang hendak mengikuti PAUD gagal beradaptasi dengan lingkungan (baru) nya tersebut; apa yang akan terjadi dengan perkembangan belajarnya?

Pada anak usia dini, anda perlu memperhatikan 4 tahap awal dari 8 tahapan perkembangan Psikososial tersebut, yaitu:

  1. Trust vs Mistrust (anak usia 0-18 bulan). Sebagai seorang pendatang baru di dunia ini, anak (bayi) memerlukan sosok yang mampu memberikan harapan hidup baginya. Dua hal mendasar yang dibutuhkan si anak: (1) nutrisi untuk bertahan hidup, dan (2) rasa aman—lewat pemberian perhatian dan kasih sayang. Ketika keduanya dipenuhi secara konsisten, anak akan tumbuh dalam rasa percaya (trust) terhadap lingkungan di sekitarnya. Jika tidak, itu akan membuat si anak tumbuh dalam ketakutan dan kecemasan (mistrust).
  2. Autonomy vs Shame-&-Doubt (anak usia 18 bulan-3 tahun). Pada anak-anak yang tumbuh dalam trust, mereka memiliki kehendak yang kuat untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara aktif. Penting bagi si anak untuk memiliki pengalaman langsung dalam bersinggungan dengan hal-hal yang menarik perhatiannya. Karena itu, anak membutuhkan pendampingan dan bimbingan, bukan pembatasan dan larangan. Ketika hal-hal di atas dipenuhi, anak akan belajar tentang kemandirian (autonomy); sedangkan, jika tidak dipenuhi, anak akan tumbuh dalam keminderan dan keraguan-raguan (shame-&-doubt).
  3. Initiative vs Guilt (anak usia 3-5 tahun). Pada anak-anak yang autonomy-nya berkembang, mereka mulai bisa berbuat sesuatu dengan niatan/tujuan yang jelas (misalnya: membersihkan/merapikan rumah). Hal tersebut sejogjanya difasilitasi oleh orangtua/keluarga/pengasuh alternatifnya. Selain itu, berikan pujian jika anak berhasil, atau pemakluman dan pengarahan jika belum berhasil. Dengan begitu, anak akan tumbuh dengan prakarsa (initiative) yang kuat dalam melakukan sesuatu, bukan rasa bersalah (guilt).
  4. Industry vs Inferiority (anak usia 5-12 tahun). Pada anak-anak dengan initiative yang kuat, muncul motivasi untuk belajar menguasai bidang tertentu yang disukainya. Oleh sebab itu, biarkan anak mencoba berbagai macam bidang aktivitas hingga menemukan yang mereka sukai; juga, berikan dukungan terhadap kebutuhan belajar si anak. Niscaya, itu bisa menumbuhkan kepercayaan diri (self-confidence) dan keyakinan diri (self-efficacy) anak dalam melakukan sesuatu (industry); semakin anak merasa mampu melakukan sesuatu, itu akan memperkuat harga dirinya (self-esteem). Sebaliknya, jika anak tidak mengalami hal-hal di atas, mereka akan tumbuh dalam rasa rendah diri (inferiority); ekstrimnya, merasa dirinya tidak berguna.
  • Menurut Albert Bandura

Tokoh Psikologi ini pernah melakukan eksperimen pada perilaku agresi anak—yang dikenal dengan sebutan “Bobo Doll Experiment” (simak video di bawah ini).

Hasilnya, anak berperilaku agresif karena mereka menirukan perilaku orang lain (modelling). Berdasarkan hasil eksperimen tersebut, Bandura mengemukakan konsep vicarious learning—seseorang belajar lewat hasil pengamatan terhadap sosok panutan (model).

Vicarious learning tersebut paling sering dilakukan oleh anak usia dini. Alasannya, karena mereka belum memiliki kematangan sistem pengaturan diri (self-regulation) ala Bandura, utamanya pada aspek internal. Efeknya, secara otomatis, anak akan menirukan perilaku model yang selalu/sering mendapat konsekuensi positif; atau, yang tidak pernah/jarang mendapat konsekuensi negatif. Sebaliknya, perilaku model tidak otomatis ditirunya jika itu selalu/sering mendapat konsekuensi negatif; atau, tidak pernah/jarang mendapat konsekuensi positif.

Coba anda kaitkan proses vicarious learning di atas dengan karakteristik perkembangan anak usia dini yang disebut tabula rasa. Apakah penjelasan saya tentang efek tabula rasa pada anak usia dini menjadi lebih masuk akal bagi anda?

Penutup

Saya telah memaparkan beberapa karakteristik perkembangan anak usia dini dan teori psikologi perkembangan anak. Sebetulnya, lewat pemaparan-pemaparan di atas, ada beberapa hal penting yang ingin saya sampaikan kepada anda; bahwa perkembangan anak usia dini itu..

  1. Multi-dimensional. Meliputi dimensi fisik, kognitif, emosi, kepribadian, identitas diri, bahasa, etika, moral, sosial, hingga spiritual. Tiap dimensi membutuhkan keberadaan dimensi lainnya (saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan satu sama lain), ibarat pepatah “setali tiga uang”.
  2. Dipengaruhi oleh significant-others. Siapa saja orang-orang terdekat (significant others) yang berinteraksi dengannya secara intens? Apa yang dipelajarinya dari significant others? Bagaimana pengasuhan yang diberikan significant others kepadanya? Semua jawaban atas pertanyaan tersebut menentukan arah perkembangannya, ibarat pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.
  3. Dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh-kembang. Kondisi perkembangannya menggambarkan konteks sosial-budaya yang membesarkannya. Itu dapat diamati dari segala tindak tanduknya yang mengikuti nilai sosial-budaya tersebut, ibarat pepatah “kacang tidak lupa pada kulitnya”.

Maka dari itu, yang perlu anda lakukan, antara lain:

  • Penuhi pelbagai kebutuhan tumbuh-kembangnya di setiap dimensi;
  • Perhatikan bentuk dan cara pengasuhan yang diberikan padanya;
  • Bijaklah dalam bertingkah laku;
  • Biarkan dirinya mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya;
  • Mendampingi dan membimbingnya dalam belajar;
  • Memantau perkembangan belajarnya;
  • Tunjukkan dukungan dan respon positif terhadap motivasi, proses, dan hasil belajarnya;
  • Lakukan pengawasan di setiap aktivitasnya; dan
  • Jangan lupa mendoakannya setiap waktu.

-Sekian-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *