Perkembangan Anak: Berkaca Pada Kualitas Pendidikan Anak di Indonesia

“Anak saya kok begini? Kok begitu? Belum bisa ini dan itu?”. Jika anda sempat mempertanyakannya, selamat! Anda masih peduli dengan perkembangan anak anda.

Saya percaya, hampir semua orangtua memiliki kepedulian tersebut; sisanya—yang tidak peduli, (mungkin) tidak punya cukup waktu untuk memikirkan anak mereka.

“Tapi, pertanyaan saya di atas belum terjawab, mengapa anak saya seperti itu?”. Baiklah, saya akan jawab, dengan pertanyaan, “kok bisa anda—sebagai orangtua—tidak tahu?”; “apakah anda tidak memantau perkembangan anak anda?”.

Saya yakin anda akan memberikan 1001 alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Daripada anda malah kelelahan karena berusaha mencari-cari alasan, berikut ini saya paparkan realita kondisi perkembangan anak di Indonesia; dan peran keluarga terhadap munculnya kondisi tersebut.

Pendidikan Anak sebagai Bagian dari Perkembangan Anak

Salah satu proses yang terjadi dalam fase perkembangan anak, yaitu pendidikan. Pada Mei 2015 lalu, Kompas memuat artikel berita mengenai pentingnya partisipasi keluarga dalam pendidikan anak.

Hasil riset tim latbang Kompas menemukan bahwa keterlibatan orangtua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak.

Realita Kualitas Pendidikan Anak di Indonesia

Pada tahun 2012, The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) melakukan pengukuran kualitas siswa—dalam bidang matematika, sains, dan membaca—di 65 negara partisannya. Hasilnya, yang juga dimuat dalam artikel berita Kompas di atas, negara Indonesia menempati peringkat ke-64.

Tiga tahun kemudian—tahun 2015—OECD kembali melakukan pengukuran yang sama. Hasilnya, negara Indonesia naik peringkat—kualitas pendidikannya berada di peringkat 57 dunia.

Sedangkan peringkat teratas di duduki oleh negara tetangga kita, Singapura (rekap hasilnya bisa diunduh di sini; dan apabila anda penasaran ingin melakukan perbandingan hasil antara Indonesia dan Singapura, bisa berkunjung ke sini).

Peran Orangtua dan Keluarga dalam Pendidikan Anak

Apa artinya data tersebut? Saya kembali pada hasil riset tim latbang Kompas; fakta tersebut mengindikasikan bahwa banyak orangtua di Indonesia belum sepenuhnya melibatkan diri dalam proses pendidikan anaknya. Apakah anda salah satunya?

Sebagian besar orangtua—yang saya ketahui lewat konseling, diskusi, maupun obrolan ringan di warung kopi—hanya menuntut anak untuk berprestasi di sekolahnya. Jika ada yang berkontribusi lebih, yang mereka lakukan, yaitu menyuruh anak ikut bimbingan belajar/kursus; selain bertanggungjawab terhadap pembiayaannya.

Selebihnya, peran terbesar dalam mendidik anak dilimpahkan pada pengasuh alternatif, guru, maupun mentor si anak. Apakah anda juga melakukannya?

Saat saya membaca artikel berita Kompas di atas, saya merasakan angin segar. Berdasarkan hasil survei terhadap 326 responden yang di keluarganya terdapat anak usia sekolah, 85%-nya menyatakan pentingnya peran orangtua dan keluarga dalam proses pendidikan anak, 15% sisanya menilai peran tersebut berada di tangan guru dan lingkungan di luar keluarga.

Sebuah hasil survei yang membuat saya optimis; akan semakin banyak orangtua yang terlibat dalam proses pendidikan anaknya. Dan, akan semakin sedikit orangtua—yang tidak memantau perkembangan anak —merasa heran dengan kondisi anak mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *