Konsep dan Fungsi Keluarga

Pengertian Keluarga

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring, arti keluarga, antara lain:

  1. Ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah
  2. Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; batih
  3. Sanak saudara; kaum kerabat
  4. Satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Keluarga Sejahtera (Pasal 1 Bab 1), keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami, isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

Bentuk-Bentuk Keluarga

Secara umum, ada dua bentuk keluarga, yaitu keluarga inti (nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Pengertian keluarga yang meliputi ibu, bapak, dan anak-anak disebut sebagai keluarga inti. Sedangkan pengertian keluarga yang meliputi satuan kerabat yang terdiri atas beberapa orang, yang berasal dari kerabat dekat suami/istri, disebut sebagai keluarga luas.

Keluarga Masa Kini

Dalam bukunya, Family Therapy: An Overview (8th Edition, 2013), Herbert Goldenberg & Irene Goldenberg berpendapat bahwa perkembangan masyarakat yang semakin pesat memunculkan bentuk-bentuk keluarga yang semakin beragam dan kompleks. Pengertian keluarga tak lagi ditentukan oleh silsilah keturunan sedarah; legitimasi terhadap hubungan kekerabatan dapat diperoleh melalui hukum negara, hukum adat, maupun hukum agama. Bahkan, di luar legitimasi tersebut, juga berlaku hubungan kekerabatan non-formal yang biasanya didasarkan pada aspek emosional, berupa ikatan/rasa persaudaraan; misalnya: keluarga besar Polri/TNI.

Fungsi Keluarga

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Dalam PP No 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Keluarga Sejahtera (Bab 2 Pasal 4) tertulis ada 8 (delapan) fungsi keluarga, antara lain:

  1. Fungsi keagamaan. Fungsi keagamaan dalam keluarga dan anggotanya didorong dan dikembangkan agar kehidupan keluarga sebagai wahana persemaian nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan-insan agamis yang penuh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Fungsi sosial budaya. Fungsi sosial budaya memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.
  3. Fungsi cinta kasih. Fungsi cinta kasih dalam keluarga akan memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, serta hubungan kekerabatan antar generasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
  4. Fungsi melindungi. Fungsi melindungi dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa aman dan kehangatan.
  5. Fungsi reproduksi. Fungsi reproduksi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia di dunia yang penuh iman dan taqwa.
  6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan. Fungsi sosialisasi dan pendidikan memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya di masa depan.
  7. Fungsi ekonomi. Fungsi ekonomi menjadi unsur pendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.
  8. Fungsi pembinaan lingkungan. Fungsi pembinaan lingkungan memberikan pada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras, dan seimbang sesuai daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis.

Menurut Teori Psikologi

Di dalam keluarga yang sehat terdapat individu-individu yang berkembang secara matang. Agar sebuah keluarga dinyatakan sebagai keluarga sehat, diperlukan struktur dan sistem keluarga yang ideal bagi setiap individu yang menjadi anggota keluarga. Struktur dan sistem keluarga yang ideal akan menunjang keberhasilan setiap anggota keluarga untuk melewati tahap perkembangannya dalam keluarga.

Struktur Keluarga

Dalam struktur keluarga, umumnya terdapat hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan keluarga antara orangtua dan anak merupakan contoh dari hubungan vertikal. Sedangkan hubungan keluarga antar pasangan dan antar saudara merupakan contoh dari hubungan horizontal.

Bagian-bagian dalam hubungan keluarga tersebut (orangtua, anak, pasangan, saudara) saling memiliki batasan. Batasan tersebut dapat berupa peraturan tertulis maupun yang tidak tertulis. Idealnya, batasan antar bagian dapat diidentifikasi secara jelas dan diberlakukan secara tegas sekaligus fleksibel. Batasan yang terlalu kaku atau terlalu lentur menjadikan struktur keluarga tidak ideal.

Selain batasan, setiap individu dalam hubungan keluarga tersebut memiliki peran dan tanggungjawab masing-masing. Peran dan tanggungjawab tersebut ada yang bersifat konstan (menetap sepanjang waktu) dan ada yang dinamis (bisa berubah sesuai kondisi). Peran dan tanggungjawab yang konstan, misalnya anak menghormati orangtua; sedangkan yang dinamis, misalnya anak menurut kepada orangtua. Struktur keluarga yang ideal mampu mengakomodir dijalankannya kedua peran dan tanggungjawab tersebut.

Sistem Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Baik masyarakat maupun keluarga, keduanya memiliki bagian-bagian yang saling terorganisir. Agar organisasi dapat berjalan dengan optimal (sehat) diperlukan sebuah sistem yang dapat dijalankan secara ideal oleh anggota organisasi; begitu pula dengan keluarga, agar dapat dikatakan sebagai keluarga sehat maka diperlukan sistem yang ideal bagi setiap anggotanya.

Hal-hal ideal yang perlu ada dalam sistem keluarga, meliputi:

  1. Nilai-nilai keluarga.
  2. Komunikasi konstruktif antar anggota keluarga.
  3. Manajemen permasalahan keluarga (berupa analisis masalah dan penyelesaian masalah).

Apabila salah satu dari ketiga hal tersebut tidak ada atau sedang mengalami disfungsi, maka sistem keluarga menjadi tidak ideal.

Tahap Perkembangan Keluarga

Salah satu teori tahap perkembangan keluarga yang paling komprehensif dan sering digunakan oleh banyak terapis keluarga, dicetuskan oleh Evelyn Duvall (1957). Tahapan perkembangan keluarga tersebut, antara lain:

  1. Baru menikah (belum memiliki anak).
  2. Kelahiran anak pertama.
  3. Anak pertama usia balita (kemungkinan memiliki anak kedua)
  4. Anak pertama usia sekolah (kemungkinan memiliki anak kedua/ketiga)
  5. Anak pertama usia remaja.
  6. Anak pertama beranjak dewasa (menjadi lebih mandiri dan melepaskan ketergantungan pada orangtua).
  7. Semua anak tidak lagi bergantung pada orangtua (salah satu atau lebih dari satu anak sudah menikah, dan bahkan bisa jadi sudah memiliki anak).
  8. Memasuki masa tua (memiliki cucu, dan pensiun dari pekerjaan).

Dalam setiap tahap perkembangan keluarga, baik orangtua maupun anak, keduanya memiliki tugas perkembangannya masing-masing. Keberhasilan individu (orangtua/anak) menuntaskan tugas perkembangan tersebut dipengaruhi dan mempengaruhi terwujudnya keluarga sehat.

5 thoughts on “Konsep dan Fungsi Keluarga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *