Keluarga dan Kesehatan Mental

Semua Bermula dari Keluarga

Banyak penelitian membuktikan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Berbagai penelitian mengenai perilaku kriminal1,2,3 menunjukkan bahwa 9 dari 10 pelaku tindak kejahatan memiliki masalah antara dirinya dan anggota keluarga yang ada di rumahnya, khususnya orangtua/keluarga yang menjadi pengasuhnya di masa kecil (dalam rentang usia 5 sampai 16 tahun).

Selain itu, hampir dalam seluruh hasil penelitian pada orang-orang yang mengalami gangguan mental4,5,6 juga menunjukkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh pengalaman traumatis di masa kecil karena kondisi keluarga yang tidak sehat, misalnya: penerapan pola asuh yang keliru, ketiadaan aturan-aturan di rumah, kekerasan dalam rumah tangga (secara fisik, psikis, seksual, dan ekonomi), konflik antar anggota keluarga, perceraian orangtua, dan sebagainya. Atau, jika kita mengamati anak-anak yang dianggap “bermasalah” karena perilakunya yang cenderung melanggar/tidak mengikuti aturan yang berlaku di sekolah atau masyarakat, bahkan yang cenderung “merusak”, “menyakiti”, dan “merugikan” lingkungan fisik dan sosialnya, kita akan menemukan bahwa hampir di semua anak tersebut, mereka memiliki masalah-masalah yang berkaitan dengan keluarga/situasi dan kondisi di rumah masing-masing.

Ketika kita memiliki masalah di rumah/masalah dengan anggota keluarga, dan tidak sanggup untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, kita akan cenderung untuk melakukan “pelampiasan”-nya pada hal-hal yang terdapat di luar rumah ketika “lepas” dari konteks keluarga, seperti di sekolah/tempat kerja. Dalam jangka pendek, hal tersebut bisa dimaklumi, itu merupakan sesuatu yang wajar terjadi karena kita membutuhkan waktu untuk “menetralisir” pikiran-pikiran/emosi-emosi negatif yang berpotensi “merusak” hubungan dengan keluarga jika itu di-ekspresikan di rumah. Akan tetapi, ketika hal tersebut berlangsung dalam jangka panjang, itu menjadi tidak sehat karena berpotensi untuk mempengaruhi kesehatan mental, dan mengganggu/merusak/merugikan kehidupan pribadi maupun sosial.

Mengatasi Keluarga yang “Tidak Sehat”

Ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki/mengatasi situasi dan kondisi keluarga yang “tidak sehat”.

  1. Structural Family Therapy, sesuai namanya, pendekatan ini berusaha memetakan, menganalisa, dan mengintervensi kondisi-kondisi keluarga yang berkaitan dengan struktur dalam keluarga, aturan-aturan yang berlaku di rumah/keluarga, peran-peran setiap anggota keluarga, dan pola relasi antar anggota keluarga. Sebuah keluarga dikatakan “sehat” jika memiliki
    • struktur, aturan-aturan, dan peran-peran yang jelas serta dijalankan secara konsisten,
    • pola relasi yang fleksibel dan setara, serta penuh kasih sayang dan perhatian; sedangkan kondisi keluarga yang sebaliknya dikatakan “tidak sehat”. Perubahan dalam kedua poin tersebut bisa mendukung terwujudnya kondisi keluarga yang “sehat”.
  2. Strategic Family Therapy, pendekatan ini berusaha memetakan, menganalisa, dan mengintervensi pola komunikasi antar anggota keluarga. Kita memiliki 3 kecenderungan ego-state yang digunakan dalam berkomunikasi.
    • Parents, ketika kita menggunakan ego-state ini, kita cenderung menjadi sosok yang otoriter. Hal-hal yang kita sampaikan adalah perintah–sehingga harus dilaksanakan oleh anggota keluarga yang lain. Adanya sanggahan terhadap “perintah” tersebut dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan (bahkan bisa dianggap “pemberontakan”).
    • Adult, ketika kita menggunakan ego-state ini, kita cenderung berfokus pada kepercayaan dan keterbukaan lawan bicara. Adanya “dialog” menjadi syarat utama dalam sebuah komunikasi. Penghargaan atas pendapat lawan bicara dan kesepakatan bersama adalah hal yang penting.
    • Child, ketika kita menggunakan ego-state ini, kita cenderung menjadi sosok yang kekanak-kanakan. Hal-hal yang kita sampaikan adalah permintaan–yang seharusnya bisa dipenuhi/dituruti oleh anggota keluarga lainnya. Biasanya “permintaan” tersebut hanya mementingkan keinginan pribadi, dan disampaikan dengan cara-cara yang manipulatif. Jika “permintaan” itu tidak bisa dipenuhi/dituruti, biasanya kita akan merasa “tidak terima”, yang di-ekspresikan dengan beragam cara.

Pola komunikasi antar anggota keluarga, yang “sehat”, ditandai dengan adanya penggunaan ketiga ego-state tersebut secara kontekstual. Kepekaan dalam mengenal dan memahami ego-state lawan bicara menjadi salah satu kata kuncinya. Pilihan ego-state yang tepat, berdasarkan hasil pengenalan dan pemahaman ego-state lawan bicara, menjadi kata kunci lainnya. Jika hal-hal tersebut tidak ada, maka pola komunitas antar anggota keluarga dapat dikatakan “tidak sehat”. Adanya usaha untuk menjadi lebih kontekstual dalam menggunakan ego-state bisa mengubah “kesehatan” pola komunitas tersebut.

Semoga para pembaca memahami isi dari artikel yang sederhana ini. Akhir kata, terima kasih atas kesediaan anda meluangkan waktu untuk membaca artikel ini. Sampai jumpa pada artikel-artikel lainnya. (AA)


Referensi

1 Farrington, D. P., & Loeber, R. (2000). Epidemiology of Juvenile Violence. Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America.

2 McCord, J. (1991). Family Relationships, Juvenile Delinquency, and Adult Criminality*. Criminology, 29(3), 397-417.

3 Le Blanc, M. (1992). Family dynamics, adolescent delinquency, and adult criminality. Psychiatry, 55(4), 336-353.

4 Roberts, R., O’Connor, T., Dunn, J., Golding, J., & ALSPAC Study Team. (2004). The effects of child sexual abuse in later family life; mental health, parenting and adjustment of offspring. Child abuse & neglect, 28(5), 525-545.

5 Kellam, S. G., Ensminger, M. E., & Turner, R. J. (1977). Family structure and the mental health of children: Concurrent and longitudinal community-wide studies. Archives of General Psychiatry, 34(9), 1012-1022.

6 McCloskey, L. A., Figueredo, A. J., & Koss, M. P. (1995). The effects of systemic family violence on children’s mental health. Child development, 66(5), 1239-1261.

One thought on “Keluarga dan Kesehatan Mental”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *