Cara Mengatasi Masalah Keluarga: Coba 6 Langkah Ampuh Ini !!!

Anda sedang mencari cara mengatasi masalah keluarga? Anda bertanya-tanya “bagaimana sih cara mengatasi masalah keluarga yang ampuh?”

Gambar Cara Mengatasi Masalah Keluarga yang Ampuh

Menurut pengalaman saya, belum ada artikel yang benar-benar bisa memberikan cara-cara yang ampuh. Mengapa? Karena artikel-artikel tersebut kurang memperhitungkan konteks dalam setiap keluarga—yang beragam dan unik.

Percayalah, tidak ada cara mengatasi masalah keluarga yang benar-benar ampuh jika itu tidak memperhatikan konteks dalam keluarga.

Agar kita bisa memperoleh konteks tersebut, menurut pengalaman saya, ada dua alternatif cara yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1.  Mendiskusikannya dengan keluarga;
  2.  Mengikuti konseling keluarga.

Mengapa harus melibatkan (anggota) keluarga? Karena ini masalah keluarga, bukan masalah pribadi. Ada banyak kasus yang mana hanya satu pihak saja yang mengusahakan cara mengatasi masalah keluarga. Dan itu seringkali berujung pada kegagalan.

Artikel ini berfokus pada cara pertama, dengan memberikan panduan “6 langkah ampuh mengatasi masalah keluarga”.

(1) PDKT DENGAN MASALAH

Sebelum mengatasi masalah keluarga, kita perlu tahu: apa masalahnya, penyebabnya, dan akibatnya.

– Apa sih masalahnya?

Kita bisa mengatasi masalah dalam keluarga jika itu bisa dideskripsikan. Misalnya: pasangan tukang ngorok (baca: suka mendengkur) dan itu dia lakukan hampir setiap malam; saya pun jadi jarang sekali bisa tidur nyenyak; padahal, setiap hari saya harus bangun pagi untuk mempersiapkan diri sebelum beraktivitas. Pendeskripsian tersebut penting untuk menguji keabsahan masalah dalam keluarga.

– Apa sih penyebabnya?

Dari deskripsi persoalan tadi, coba pahami secara lebih mendalam. Faktor apa saja yang menyebabkan masalah dalam keluarga. Secara umum, ada 2 penyebab yang perlu kita ketahui. Biasanya, masalah dalam keluarga memang disebabkan oleh fakta riil, namun kadangkala itu muncul karena hasil persepsi kita.

– Apa sih akibatnya?

Akibat yang ditimbulkan oleh masalah dalam keluarga memiliki efek domino. Itu berpotensi mempengaruhi munculnya masalah-masalah lain; bahkan yang seharusnya tidak berkaitan langsung dengan inti masalahnya. Setidaknya, ada 5 dampaknya yang perlu kita ketahui. Dengan memperkirakan efek domino dari masalah dalam keluarga, kita bisa memperoleh gambaran tentang tingkat keseriusan masalah tersebut.

(2) GALANG PERSATUAN ANTARANGGOTA KELUARGA

Tujuan dari langkah kedua ini, yaitu: mengajak sebanyak mungkin anggota keluarga—yang terlibat/mau melibatkan diri/bisa dilibatkan, dan masih berkaitan dengan masalah dalam keluarga—untuk membicarakan dan mengatasinya.

Prinsip utama: keluarga merupakan salah satu bentuk organisasi; yang jika salah satu atau beberapa bagian di dalamnya sedang bermasalah/berkonflik, maka itu turut mempengaruhi keseluruhan bagian. Oleh sebab itu, ketika kita hendak mengatasi masalah keluarga, usahakan anggota-anggotanya turut berkontribusi dalam prosesnya.

Ingat, fokusnya pada mengatasi masalah keluarga, jadi setiap anggota keluarga perlu berkomitmen untuk mewujudkan hal tersebut.

(3) CURHAT BERJAMA’AH

Langkah ketiga ini menjadi kesempatan bagi setiap anggota keluarga untuk membicarakan dan mendengarkan pandangan masing-masing; mengenai hal-hal yang menjadi masalah dalam keluarga. Dalam prosesnya, hal-hal yang dibahas sama dengan yang telah saya sebutkan pada langkah pertama.

Sebelum memulainya, ada dua prinsip yang perlu disepakati bersama untuk dilakukan oleh semua anggota keluarga, yaitu:

– Saling Terbuka

Keterbukaan yang saya maksud berlaku dua arah, baik dalam memberi maupun menerima pandangan.

Biasanya, kita cenderung terbuka dalam memberi pandangan—misalnya berupa kritik—tetapi enggan menerima pandangan serupa, atau sebaliknya; hal ini tidak sesuai dengan prinsip keterbukaan, dan berpotensi mengganggu keterbukaan antaranggota keluarga.

Jadi, kita perlu menyadari saat kecenderungan ini terjadi; dan menanggapinya secara bijak (jika ada anggota keluarga yang melakukannya, ingatkan untuk tetap saling terbuka).

– Saling Menghargai

Prinsip utama dari saling menghargai, yaitu membangun dan menjaga kesejahteraan psikologis—diri sendiri dan orang lain.

Biasanya, kita cenderung untuk membenarkan/menyalahkan suatu pandangan (secara tidak berimbang dan berlebihan); misalnya, anda hanya membenar-benarkan pandangan pribadi tetapi selalu menyalah-nyalahkan pandangan orang lain—bahkan terkesan menyudutkan pribadi orang tersebut; itu bisa mempengaruhi pemenuhan kesejahteraan psikologis—berupa rasa aman dan harga diri.

Sekali lagi, kita perlu menyadari saat kecenderungan ini terjadi; dan menanggapinya secara bijak (jika ada anggota keluarga yang melakukannya, ingatkan untuk tetap saling menghargai).

Catatan: Pada beberapa sesi konseling yang pernah saya lakukan, saat konseli (klien) berhasil membicarakan dan mendengarkan pandangan-pandangan tertentu, ada satu/beberapa momen dalam proses konseling tersebut yang mana mereka akan menemukan sendiri blindspot-nya—sesuatu yang selama ini tidak disadarinya namun secara faktual itu dilakukannya/terjadi.

Kita perlu menemukan dan mengumpulkan berbagai blindspot tentang masalah dalam keluarga yang kita hadapi.

(4) MUSYAWARAH MUFAKAT KELUARGA

Setelah kita berhasil menyadari blindspot tersebut, langkah selanjutnya, yaitu mendiskusikan dan menyepakati cara mengatasi masalah keluarga.

Pada hampir semua sesi konseling yang saya lakukan, blindspot membantu klien saya untuk memperoleh insight—alternatif solusi—secara mandiri. Hanya sebagian kecil saja yang perlu difasilitasi dalam proses tersebut—biasanya pada klien dengan gangguan psikologis tertentu, misalnya: depresi.

Usahakan setiap anggota keluarga berkontribusi dalam memunculkan berbagai insight tentang cara mengatasi masalah keluarga yang kita hadapi.

(5) TRIAL & ERROR

Sebenarnya, ada dua langkah lagi yang WAJIB kita lakukan sesudah memenuhi ke-empat langkah di atas. Pertama, COBA..999x, dan kedua, EVALUASI..999x (saya sengaja membubuhkan “999x” pada dua langkah tersebut, maksudnya: trial & error).

Dalam usaha mengatasi masalah dalam keluarga kita perlu berani trial & error.

Saat kita mengimplentasikan cara mengatasi masalah dalam keluarga yang disepakati bersama (anggota keluarga), dan langsung berhasil, selamat! Jika tidak, jangan berkecil hati, coba lagi dan lagi, sambil terus di-evaluasi, sampai berhasil.

(Oh ya, dalam proses trial & error, anda juga bisa mencoba tips dalam artikel ini: 8 Kunci Penting Menyelesaikan Konflik Keluarga).

(6) BERDOA

Rahasia sukses yang sebetulnya sudah kita ketahui tetapi (mungkin) kerap kita lupakan, yaitu BERDOA.

Kata pemuka agama atau spiritualis, ada kekuatan di balik sebuah doa. Namun, konsep “berdoa” yang saya tawarkan (bisa jadi) melebihi yang mindstream.

Saya ingin bertanya hal yang sederhana. Saat anda berdoa, itu dilakukan dengan pesimistik atau optimistik? Doa-doa yang anda ungkapkan—baik yang terucap maupun tak terucap, diikuti dengan keragu-raguan atau dengan yakin? Saya percaya, doa yang dikabulkan adalah doa yang diungkapkan secara optimis dan yakin.

Pertanyaan berikutnya, di antara empat aspek doa tadi—pesimis, optimis, ragu, dan yakin—mana yang konsisten anda ungkapkan secara tak terucap? Saya juga percaya, dimensi ketaksadaran manusia (human unconsciousness) lebih dominan dan kuat menentukan “apakah doa kita terkabul atau tidak”.

Akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang membacanya. Apabila bermanfaat, anda bisa membantu orang lain, dengan cara membagikannya pada mereka.


Apabila anda merasa perlu melakukan konseling—baik personal maupun keluarga, silahkan kirim cerita anda ke alamat surel ini: adi@growthia.net; atau jika anda tidak keberatan cerita tersebut dibaca khalayak ramai, silahkan tulis pada kolom komentar. Terima kasih.

2 thoughts on “Cara Mengatasi Masalah Keluarga: Coba 6 Langkah Ampuh Ini !!!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *