4 Langkah Rekonstruksi Peran Laki-laki dalam Keluarga: Sebuah Aji Mumpung Ada Hari Ayah Sedunia (Father’s Day)

18 Juni kemarin diperingati sebagai hari ayah sedunia (father’s day). Saya jadi tergelitik untuk menulis tentang “peran laki-laki dalam keluarga”. Sebagai awalan, silahkan anda simak beberapa ilustrasi visual karya Aji Prasetyo, di bawah ini.

jaman-mengajak-kita-berubah-1

jaman-mengajak-kita-berubah-2

jaman-mengajak-kita-berubah-3

jaman-mengajak-kita-berubah-4

jaman-mengajak-kita-berubah-5

jaman-mengajak-kita-berubah-6

jaman-mengajak-kita-berubah-7

Ilustrasi visual di atas menggambarkan polemik peran gender dalam keluarga yang sesungguhnya sudah terjadi sejak era tahun 90-an. Bahkan, jika anda pernah membaca tulisan Pram berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”, ketimpangan peran gender sudah menggelisahkan Ibu Kita Kartini.

Saat ini, polemik tersebut terasa semakin santer merasuk dalam sendi-sendi kehidupan rumah tangga kebanyakan orang. Betapa tidak, perempuan bekerja sudah bukan menjadi sebuah fenomena, tetapi kelumrahan—termasuk istri saya, dan mungkin juga, istri anda. Kata orang, itu merupakan salah satu bentuk emansipasi perempuan.

Lalu, sebagai seorang laki-laki dalam keluarga—dengan peran sebagai suami dan ayah, maupun suami/ayah saja; bagaimana kita sejogjanya merespon keadaan itu?

#1 Wahai Kaum Adam, Berdamailah dengan Keadaan!

Dengan kata lain, kita perlu mengikuti arus perubahan jaman. Lebih tepatnya, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk bermain (peran) secara fairplay.

Bekerja memang menjadi hak semua orang—tak terkecuali, perempuan. Kita saja yang selama ini terjebak dalam pusaran hegemoni patriarki; yang mengharuskan kita (laki-laki) menjadi maskulin, dan mereka (perempuan) menjadi feminin—menurut versinya.

Padahal, menjadi laki-laki tak perlu harus maskulin (tampil gagah, setrong, dan melulu mengurus ranah publik). Sebaliknya, menjadi perempuan juga tak harus mengikuti kaedah feminin ala macak, manak, masak” yang notabene hanya mengurus ranah domestik. Bukan ketinggalan jaman, tapi memang seharusnya tidak begitu; kita saja yang mau dibohongi pakai ayat-ayat dalam kitab (suci) patriarkis.

#2 Jika Sudah Berdamai, Lakukan Penyesuaian!

Apa susahnya sih mengerjakan hal-hal yang selama ini biasanya diurus oleh perempuan (dalam rumah tangga)? SUSAH BINGITS!

Bagi saya, kesulitan tersebut disebabkan oleh faktor “tidak terbiasa”. Namun, menurut istri saya, itu karena faktor “tidak ada niat”. Kemudian timbul pertanyaan, mana duluan: terbiasa atau niat? (ini mirip dengan pertanyaan: duluan ayam atau telur?).

Pertanyaan tersebut jadi bahan perdebatan (diskusi) antara saya dan istri. Yang, ujung-ujungnya, membuat saya dapat ultimatum dari istri tercinta—karena dianggap omong doang (cuma jago berargumen waktu diskusi), no action!

Bagi istri saya (dan, mungkin juga, istrsi anda), yang penting itu memberi bukti, bukan janji. Jika tidak ada bukti, maka sang istri akan bernyanyi “jambu.. janji-janjimu janji busuk.. busuk-999x..”. Dan, apabila “jambu-jambu” itu dibiarkan langgeng, bisa-bisa buntunya muncul tuntutan pegatan—rumah tangga tak lagi langgeng (malah tambah runyam, toh?).

Kalau sudah begitu, pertanyaan duluan mana: terbiasa atau niat? tak perlu dibahas lebih lanjut, apalagi sampai mengadakan sidang istimewa MPR (Majelis Perwakilan Rumah-tangga). Karena hal yang lebih ditekankan, yaitu memberi bukti—kata sang istri, “wujudkan janji-janji manismu, kakanda”. Dengan cara (meminjam jargon BPK JKW): kerja! kerja! kerja!—mengerjakan pelbagai urusan rumah tangga (domestik) yang biasanya dilakukan oleh perempuan; ini harga mati, setali tiga uang-nya emansipasi.

#3 Mulai dengan Pembagian Peran dalam Keluarga, Yuk!

Anda perlu tahu, wahai kaum adam, bahwa 90% perempuan bekerja mengalami work-family conflict. 17 tahun yang lalu, Timmy Allen et al mempublikasikan hasil penelitian tentang konsekuensi work-family conflict pada perempuan bekerja—berupa tingginya tingkat stress. 15 tahun kemudian, temuan tersebut masih relevan terjadi pada perempuan bekerja di Negeri Jiran (Nurnazirah Jamadin & rakan-rakan). Bagaimana dengan perempuan bekerja di Indonesia? Silahkan bertanya ke Ibu Artiawati Mawardi—satu-satunya peneliti asal Indonesia yang menjadi bagian dari tim international work-family research.

Apakah fakta penelitian di atas merupakan bumerang bagi emansipasi perempuan? Jawaban saya tegas: TIDAK! Justru fakta tersebut menunjukkan kegagalan kita sebagai seorang pejantan tangguh. Atau, lebih tepatnya, membuktikan bahwa kita ini penjantan tangguh yang lemah; karena gagal mengimbangi kekuatan para perempuan yang sanggup bekerja sambil mengurus rumah (HARAP DICATAT!—kalau perlu dikasih highlight & underline).

Kita maunya disebut sebagai lelaki yang gentle, betul? Tunjukkan ke-gentle-an kita dengan berbagi peran dalam keluarga, bukannya ogah mengerjakan urusan tangga—macam nyapu & ngepel, cuci baju dan piring, hingga mengasuh anak. Ingat ya, berbagi peran, bukan membantu pekerjaan rumah tangga perempuan (penjelasannya bisa anda simak dalam tautan pic.twitter di bawah ini).

#4 Jalani dengan Ikhlas, Kawanku My Friends!

Bagi saya, konsep ikhlas itu mudah diucapkan, tapi susah diterapkan (namun bisa dicoba, kok, percaya deh). Daripada kita berfokus pada kemudahan/kesulitan dalam menjadi ikhlas, mengapa tidak arahkan saja pada manfaat dari keikhlasan? Seperti anjuran Afifah Nusaibah untuk biasakan ikhlas agar mendapatkan 3 manfaatnya secara Islami. Atau, biar anda lebih yakin tentang manfaat ikhlas, silahkan simak rekaman ceramah Ustadz Ali Hasan Bawazier oleh Komunitas Jakarta Mengaji, di bawah ini.

Penutup

Mungkin beberapa dari anda ingin berkomentar: HLH KNTL—anda anggap saya sedang “jualan” gagasan tentang rekonstruksi peran laki-laki dalam keluarga ala-ala feminisme.

Di satu sisi, ya.. saya memang jadi bagian dari kelompok yang pro-feminisme. Di sisi lain, kalau toh saya tak kenal sama yang namanya feminisme, saya sedang berhadapan muka-ketemu-muka dengan realita kehidupan tersebut; maka saya merasa perlu untuk bermanuver supaya bisa survive dalam dunia persilatan. Ketimbang saya stress sendiri, toh anda belum tentu mau berbagi stress dengan saya, ya kan?

Lagipula, jika kita (laki-laki) dan mereka (perempuan) bisa sama-sama “enak” dalam menjalani kehidupan ini (terlepas anda sudah punya pasangan atau masih jomblo), niscaya masing-masing pihak akan merasa lebih ayem & tentrem. Dan, yang terakhir, jangan lupa bahagia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *