2 Penyebab Masalah Keluarga dan Pemicu Konflik Keluarga Bahagia


Masalah keluarga dan konfliknya menjadi isu utama dalam keluarga. Keduanya bisa menyebabkan orang-orang yang ada di dalamnya—anggota keluarga mengalami stress dalam keluarga. Fatalnya, stress yang tidak dikelola dengan baik, atau tidak ditemukan cara untuk mereduksinya, bisa mengganggu kesehatan mental, dan merusak gambaran keluarga bahagia.

Keluarga yang nampak bahagia belum tentu tidak ada masalah keluarga
Foto Masa Kecil Penulis Bersama Keluarga

Apa saja penyebab terjadinya masalah keluarga? Bagaimana masalah keluarga bisa memicu munculnya konflik keluarga?

A) MASALAH KELUARGA

“Hidup itu penuh dengan masalah”. Apakah ada di antara anda yang bisa menghitung, berapa banyak masalah yang sudah anda alami hingga saat ini? Saya yakin anda tidak mau repot untuk menghitung masalah karena malah akan memunculkan masalah baru. Secara sederhana, masalah dapat diartikan sebagai adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Pada konteks masalah keluarga, ketidaksesuaian tersebut biasanya terjadi dalam dua hal utama, yaitu:

1) PERUBAHAN YANG TERJADI DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA

“Tidak ada yang kekal di dunia ini, kecuali perubahan”. Dalam kehidupan berkeluarga, perubahan pertama yang kita alami terjadi saat momen pernikahan—dua orang yang berbeda dipersatukan lewat pengesahan perkawinan sesuai hukum agama, hukum adat, dan hukum negara. Coba ingat kembali masa-masa awal pernikahan anda, apa saja masalah keluarga yang anda alami berkaitan dengan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan mengenai sosok suami/istri anda? Perubahan-perubahan selanjutnya dalam kehidupan berkeluarga, secara umum, antara lain:

  • Bertambahnya anggota keluarga—karena kelahiran/adopsi anak, ada anggota keluarga yang menetap di rumah anda, dll.
  • Anak tumbuh besar—sehingga kebutuhan-kebutuhannya yang perlu dipenuhi makin bertambah, misalnya terkait pendidikan/hobi.
  • Anak tumbuh dewasa—sehingga tidak lagi bergantung pada orangtua (menjadi lebih mandiri), misalnya anak memutuskan untuk menikah.
  • Berkurangnya anggota keluarga—karena anak tidak lagi tinggal di rumah dengan alasan studi/berkarir/menikah, ada anggota keluarga yang meninggal dunia, dll.

Selain keempat poin di atas, bisa jadi ada keluarga-keluarga yang mengalami perubahan-perubahan lain yang unik dalam kehidupan berkeluarga masing-masing. Coba ingat kembali, di antara berbagai pengalaman/peristiwa perubahan tersebut, apa saja masalah-masalah yang dialami oleh keluarga anda?

2) PERILAKU ANGGOTA KELUARGA

“Tidak ada manusia yang sempurna”. Dalam sebuah keluarga pasti ada satu/lebih anggota keluarga yang pernah berperilaku tidak sesuai dengan nilai/norma keluarga. Misalnya, anda menyaksikan suami/istri anda yang baru saja pulang kerja, atau anak anda yang baru saja pulang sekolah, lalu meletakkan pakaian kotornya seenaknya (tidak pada tempat yang sudah disediakan), padahal keluarga anda menerapkan nilai-nilai kebersihan dan kerapihan, serta memiliki norma tertentu mengenai pakaian kotor. Contoh tersebut pernah saya lakukan, dan istri saya yang menganggapnya sebagai masalah, yaitu: anak kami akan meniru perilaku saya yang sembarangan meletakkan pakaian kotor. Apakah anda memiliki pengalaman serupa/pengalaman lainnya? Apa saja masalah-masalah keluarga yang timbul akibat perilaku anda maupun perilaku anggota keluarga anda?

Setiap masalah keluarga yang tidak dikelola dengan baik, yang belum berhasil diselesaikan oleh anggota keluarga, punya potensi untuk berkembang menjadi konflik keluarga.

B) KONFLIK KELUARGA

“Dalam hidup, konflik adalah sebuah keniscayaan”. Apakah ada di antara anda yang tidak pernah berkonflik hingga saat ini? Saya yakin jawabannya: tidak ada. Secara sederhana, konflik dapat diartikan sebagai adanya perselisihan antara dua orang/lebih karena masing-masing punya kepentingan yang berbeda atau bertolak belakang. Pada konteks konflik keluarga, perselisihan tersebut dapat dilihat berdasarkan dua kategori, antara lain:

1) KONFLIK KELUARGA BERDASARKAN AKTORNYA

Secara umum, bentuk-bentuk konflik keluarga berdasarkan aktornya—anggota keluarga yang terlibat dalam perselisihan, dapat dibagi menjadi:

  • Antarpasangan (suami-istri).
  • Antarsaudara (kandung, tiri, angkat, sepupu, atau ipar).
  • Antargenerasi (orangtua-anak, mertua-menantu, paman/bibi-keponakan, nenek/kakek-cucu, atau buyut-cicit).

2) KONFLIK KELUARGA BERDASARKAN AKAR PENYEBABNYA

Ada banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik keluarga, mulai dari yang sepele hingga yang kompleks. Dari keragaman latar belakang tersebut, saya menemukan ada dua akar penyebab konflik keluarga, yaitu:

  • Salah paham. Umumnya, konflik keluarga yang terjadi karena kesalahpahaman dipengaruhi oleh adanya proses komunikasi yang tidak berlangsung dengan baik (miskomunikasi), dan/atau pesan yang dikomunikasikan tidak diartikan secara tepat (mispersepsi). Apabila istri saya diam saja saat saya meletakkan pakaian sembarangan—terjadi miskomunikasi, maka saya akan menganggap bahwa istri saya tidak mempermasalahkannya, padahal istri saya tidak suka—terjadi mispersepsi. Ketika miskomunikasi dan mispersepsi berlangsung terus-menerus, itu berpotensi memunculkan konflik keluarga.
  • Gagal paham. Istilah tersebut saya pergunakan untuk me-label fenomena-fenomena konflik keluarga yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antar anggota keluarga yang sifatnya fundamendal. Misalnya, saya memiliki prinsip bahwa saya harus berpoligami, sedangkan istri saya memiliki prinsip monogami. Saat saya menjalin hubungan yang dekat dengan perempuan lain—yang akan saya nikahi sebagai istri kedua, hubungan tersebut saya anggap hal yang wajar; sedangkan istri saya menganggapnya sebagai perselingkuhan—di sinilah terjadi konflik keluarga akibat perbedaan kepentingan yang fundamendal antara saya yang ingin berpoligami dan istri saya yang ingin mempertahankan pernikahan monogami.

Setiap konflik keluarga memiliki dampak yang beragam terhadap keberlangsungan kehidupan sebuah keluarga. Setidaknya ada 5 dampak masalah dan konflik keluarga yang berhasil kami sarikan melalui penelurusan liputan-liputan pada beberapa portal berita nasional dan regional di Indonesia.

4 thoughts on “2 Penyebab Masalah Keluarga dan Pemicu Konflik Keluarga Bahagia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *